Kalau Pesantren Runtuh, Siapa yang Menjaga Moral bangsa ?
Kasus kekerasan seksual yang melibatkan oknum berkedok kiai kembali memunculkan gelombang kemarahan publik. Media sosial dipenuhi hujatan terhadap pondok pesantren. Tidak sedikit yang kemudian menyimpulkan bahwa pesantren identik dengan ruang gelap penuh kekerasan dan manipulasi agama. Di titik inilah persoalan mulai bergeser, kritik terhadap pelaku berubah menjadi stigma terhadap seluruh lembaga.Padahal, cara berpikir semacam itu berbahaya.Kita tentu tidak boleh memberi ruang sedikit pun bagi pelaku kekerasan seksual. Siapa pun yang menggunakan otoritas agama untuk merusak martabat manusia harus dihukum tegas. Tidak ada dalih agama yang dapat membenarkan kejahatan semacam itu. Pesantren pun tidak boleh menutup diri dari evaluasi. Sistem pengawasan, perlindungan santri, transparansi kelembagaan, hingga mekanisme pelaporan kekerasan harus diperbaiki secara serius.
Namun persoalannya bukan di situ. Yang problematis adalah kecenderungan publik menggeneralisasi pesantren hanya dari tindakan segelintir oknum.
Logika semacam ini sesungguhnya tidak pernah dipakai pada institusi lain. Ketika terjadi kekerasan seksual di sekolah umum, orang tidak lalu menyebut seluruh sekolah sebagai sarang predator. Ketika ada korupsi di kampus ternama, masyarakat tidak membubarkan sistem pendidikan tinggi. Tetapi terhadap pesantren, sebagian orang dengan mudah melakukan “gebah-uyah”: satu kasus dianggap mewakili seluruh wajah pesantren di Indonesia.
Padahal pesantren adalah salah satu institusi sosial paling tua dan paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.
Jauh sebelum republik ini berdiri, pesantren sudah hadir sebagai pusat pendidikan rakyat kecil. Dari bilik-bilik bambu sederhana lahir tradisi membaca, mengaji, berdiskusi, dan membangun kesadaran sosial. Pesantren bukan hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter hidup, kesederhanaan, disiplin, hormat kepada guru, solidaritas sosial, dan kemampuan hidup bersama.
Tradisi itu masih bertahan hingga sekarang.

Di tengah budaya digital yang semakin individualistik, pesantren justru mempertahankan nilai kolektivitas. Santri hidup tanpa sekat kelas sosial. Anak orang kaya tidur bersebelahan dengan anak petani. Mereka belajar mencuci pakaian sendiri, antre mandi, bangun malam untuk tahajud, dan belajar menahan ego dalam kehidupan berjamaah. Pendidikan semacam ini tidak mudah ditemukan di banyak institusi modern hari ini.
Karena itu, terlalu dangkal apabila pesantren hanya dilihat dari berita kriminal yang viral di media sosial.
Secara historis, pesantren juga memiliki kontribusi besar terhadap lahirnya Indonesia. Resolusi Jihad yang dipimpin oleh KH Hasyim Asy’ari pada 1945 menjadi salah satu momentum penting dalam mempertahankan kemerdekaan. Banyak pesantren kala itu menjadi basis perjuangan rakyat melawan kolonialisme. Para kiai tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga menanamkan keberanian mempertahankan tanah air.
Sampai hari ini pun pesantren terus berkembang. Banyak pondok telah memiliki sekolah formal, perguruan tinggi, pusat pelatihan usaha, koperasi, hingga program teknologi digital. Pesantren tidak lagi sekadar ruang konservasi tradisi, tetapi juga ruang adaptasi sosial yang mencoba menjawab tantangan zaman.
Dari kultur pesantren pula lahir banyak tokoh nasional. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah contoh paling jelas bagaimana tradisi santri mampu melahirkan pemimpin dengan wawasan kebangsaan dan kemanusiaan yang luas. Banyak akademisi, budayawan, birokrat, dan aktivis sosial Indonesia juga tumbuh dari lingkungan pesantren.
Tentu saja pesantren bukan institusi suci yang bebas dari kesalahan. Tidak ada lembaga manusia yang benar-benar steril dari penyimpangan. Justru karena memiliki pengaruh besar di masyarakat, pesantren harus terbuka terhadap kritik dan reformasi internal. Tetapi kritik tidak boleh berubah menjadi kebencian kolektif.
Sebab jika pesantren terus-menerus dihancurkan melalui stigma sosial, yang hilang bukan hanya nama baik lembaganya. Yang ikut runtuh adalah salah satu benteng pendidikan moral yang selama ini masih bertahan di tengah krisis karakter bangsa.
Di saat banyak orang sibuk membangun gedung pendidikan megah, pesantren masih tekun mengajarkan satu hal yang semakin mahal di zaman sekarang, membentuk manusia agar tidak kehilangan hati nuraninya.
