TRANSFORMASI DAN DESAIN PENDIDIKAN PESANTREN DI ERA GLOBAL

Oleh : Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A.

Dewan Pembina FPTP,

Pengasuh Pesantren Luhur At-Tsaqafah Jakarta

  1. Dunia tengah berada dalam situasi yang tidak baik baik saja. Eskalasi konflik dan peperangan terus bergejolak, turbulensi ekonomi terus terjadi, dan ancaman bencana ekologis yang serius, terus melanda dimana-mana.
  2. Dunia tengah memasuki babak baru perperangan global, yang bukan hanya sekedar perang fisik saja, tetapi telah berkembang meluas kearah perperangan yang tidak bersudut dan meliputi hampir seluruh aspek kehidupan. Perang tarif, perang digital dan Perang siber, perang mata uang, perang budaya pop, perang biologi, perang iklim dan bencana, dan perang asimetris lainnya, menjadi menjadi babak baru bagi perang dunia.
  3. Era Digital dengan Kemajuan Teknologi nya, yang dibarengi dengan Peningkatan Kesadaran Ekologis masyarakat, telah membawa transformasi besar dalam cara beragama, sekaligus membawa perubahan gaya hidup warga dunia.
  4. Teknologi Digital dengan segala kemudahannya telah menghipnosis sebagian anak-anak muda, dan telah berhasil melenyapkan sebagian waktu produktif mereka, karena mereka telah masuk dalam jebakan akses terhadap hiburan yang tak terbatas. Penyakit “Fear of Missing Out (Ketakutan ketinggalan hal hal baru di internet atau di sosmed) mewabah dan sebagian dari mereka hidup dengan hanya menyibukkan diri dengan teknologi di genggaman, dan kemudian menjadi menua dengan tanpa tujuan.
  5. Selaras dengan realitias tersebut, sudah seharusnya perlu dilakukan transformasi besar dalam mendidik generasi bangsa, agar lebih produktif, lebih arif terhadap teknologi, lebih peduli lingkungan serta agar menjadi lebih kompetitif, lebih unggul dan lebih maslahat di masa depan.
  6. Pendidikan tidak lagi bisa bertahan dengan metode tradisional semata, tetapi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Meski demikian, tetap tidak boleh terbawa arus zaman. Masyarakat Pesantren, kaum santri dan Warga Nahdliyin wajib menggenggam teguh Prinsip-Prinsipnya, agar tetap tegar dan cerdas dalam menghadapi berbagai gelombang perubahan. Diantara Prinsip Prinsip tersebut adalah: المُحَافَظَةُ عَلَى القَدِيمِ الصَّالِحِ، وَالأَخْذُ بِالجَدِيدِ الأَصْلَحِ
  7. Inilah momentum bagi kita Masyarakat Pesantren, Kaum Santri dan Warga Nahdliyin untuk kembali membedah Khazanah Ilmu Pengetahuan, teknologi dan Peradaban Islam, yang telah diwariskan oleh Para Nabi Nabi, dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai pada zamannya, yang sangat layak untuk kembali dihadirkan pada saat ini, dengan dimensi yang berbeda.
  8. Keunggulan Teknologi dan Teknik Metalurgi Ala Nabi Daud, Kecanggihan Transportasi Udara, Teknik Konstruksi, dan Teleportasi Zaman Nabi Sulaiman dan Asif Bin Barkhiya. Teknologi Perkapalan, Tehnik Konservasi dan Pelestarian keanekaragaman hayati ala Nabi Nuh. Ilmu Ekonomi Ala Nabi Yusuf dan Teknik Berdagang ala Syech Fihir (Kakek Rosulullah), Metode Kepemimpinan Rosulullah, dan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi zaman Dinasti Abasiyah, sudah seharusnya di hidupkan kembali, dan dihadirkan secara inovatif dalam karya nyata, untuk menjawab berbagai tantangan zaman.
  9. Berbagai Kearifan lingkungan, keunggulan ilmu Pengetahuan dan Teknologi Leluhur Bangsa Nusantara, dari teknik metalurgi dan hingga ilmu astronomi, adalah khazanah yang tak boleh dilupakan dan harus terus digali untuk di kembangkan. Perpaduan khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi serta peradaban Islam dengan khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi serta peradaban bangsa Nusantara, akan sangat istimewa dan sangat presisi dijadikan sebagai kurikulum pembelajaran Pesantren yang inovatif di era ini.
  10. Seraya tetap menjaga tradisi warisan Turost / Kitab Kuning, perlu dimulai sebuah inovasi model pembelajaran yang tidak hanya berbasis dogma, tetapi harus lebih mengarah ke learning to know (belajar untuk mengetahui) learning to do (belajar untuk melakukan), learning to be (belajar untuk menjadi), dan learning to live together (belajar untuk hidup Bersama), dengan mengedepankan riset-riset dan praktek prakterk terapan, maka Pesantren kedepan akan benar-benar mampu menjadi center of excellence dan tidak ketinggalan zaman, serta mampu melahirkan Peradaban Spiritual dan menjadi penyeimbang dari Peradaban Material, yang cenderung eksploitatif.
  11. Pesantren harus mampu menjadi “STRONG AND MODERN CENTER  OF  SPIRITUAL  CIVILIZATION  (Pusat  Peradaban Spiritual yang Kuat dan Modern)” yang menggabungkan antara tsaqafah dan hadharah dengan hidup yang berkualitas dan mampu melahirkan masyarakat mutamaddin. Pesantren harus mampu hadir dan menyuguhkan tawaran alternative yang lebih presisi. Yakni menyuguhkan perpaduan proses pembelajaran berbasis khazanah peradaban Islam dan khazanah peradaban nusantara, yang diramu dalam Pembelajaran yang futuristik ala ISLAM NUSANTARA.
  12. Dengan Mengedepankan prinsip “TEKUN, TEKEN, TEKAN”, dalam pembelajaran di Pesantren, maka kehadiran Pesantren akan menjadi solusi Pendidikan masa depan, bukan menjadi beban. TEKUN bermakna menseriusi sesuatu secara mendalam dalam riset dan terapan pada bidang, TEKEN yang dimaknai berfokus pada (TEKNOLOGI, EKONOMI, KEPEMIMPINAN, EKOLOGI & NASIONALISME), seraya dijiwai dengan pendekatan spiritualitas, insyallah akan TEKAN, yang berarti sampai pada tujuan yang diharapkan.
  13. Mengapa diperlukan fokus pada “TEKEN SPIRITUAL” (Teknologi, Ekonomi, Kepemimpinan, Ekologi & Nasionalisme berbasis Spiritual)? Pertama, diperlukannya sebuah terobosan Teknologi Spiritual (Techno Spiritual) yang mampu menggabungkan Kekuatan Teknologi Modern dengan spiritualitas, yang bisa menjadi lompatan kuantum (Quantum Leap) yang bisa menembus alam materil dan alam non materiil, untuk menjawab perintah Allah SWT dalam Al Quran (QS Ar-Rahman ayat 33): يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ Bi Sulthon, tafsirnya bisa bil Ilmi, bi Teknoloji, bil Mulki dan sebagainya. Kedua, model Ekonomi Spiritual (spiritual ekonomi), yang mampu menjadi titik temu kebangkitan agama dan globalisasi ekonomi, serta didedikasikan untuk mengintegrasikan nilai nilai spiritual dalam praktek ekonomi, sehingga manusia dapat mencapai tingkat kemakmuran yang Melampaui Batas Materi (Beyond Materi) dan tidak cenderung Eksploitatif. Sebagaimana diajarkan dalam surat Al Quroisy ayat 3 dan 4, dimana ada keseimbangan antara  فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ dengan الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ ࣖKetiga, diperlukan model Kepemimpinan Spiritual (Spiritual Leadership) yakni model kepemimpinan yang holistik dan berorientasi pada nilai-nilai yang lebih tinggi dan memberikan dampak positif, serta memadukan dimensi duniawi ukhrowi), agar terwujud keadilan di semesta raya. Dengan ini, kedepan para santri  diharapkan  dapat  menjadi  Strong  Leader  di  semua  lini kehidupan. Sebagaimana Firman Allah Dalam Al Quran (QS AL Baqarah 124): قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ Keempat, diperlukan model Ekologi Spiritual (Eco Spiritual) yang mampu menggabungkan Kesadaran Ekologis dengan dimensi Spiritual dalam diri setiap individu manusia, sehingga, tanggung jawab penyelamatan dan pelestarian bumi dan seisinya menjadi kesadaran Bersama. Demikian halnya, ancaman bencana ekologis dapat teratasi, serta manusia hidup untuk menjadi rahmat bagi semesta dan  tidak over exploitative. Yang terpenting, pada saatnya, seluruh keanekaragaman hayati disemesta dapat diselamatkan dari ancaman kepunahan. Sebagaimana Misi yang dimandatkan pada manusia, untuk menjadi Rahmatan lil Alamiin (QS Al Anbiya 107): وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ Kelima, dibutuhkan penguatan Nasionalisme Spiritual (Nasionalisme Religius) untuk mengatasi memudarnya nasionalisme dan kuatnya penetrasi budaya asing, yang mulai menguasai gaya hidup dan cara berfikir anak anak bangsa. Pesantren harus hadir menjadi benteng kebudayaan dan benteng nasionalisme bangsa Indonesia. Sehingga spirit Wathoniyah menancap kuat kedalam sanubari dan keimanan setiap individu warga bangsa.
  14. Warisan Turots dan Kekayaan khazanah keilmuan Pesantren sangat bisa diandalkan, sebagai modal riset terapan yang mendalam untuk menemukan solusi atas kebutuhan Teknologi, Ekonomi, Kepemimpinan, Ekologi dan Nasionalisme. Dengan catatan, sepanjang warisan dan khazanah tersebut tidak hanya di pahami secara leterlek dan hanya menjadi bacaan saja. Tetapi sebaliknya sebagai sumber inspirasi dan spirit untuk menemukan hal-hal baru yang lebih maslahat.
  15. Pesantren harus mampu membangun konektifitas global, agar tidak terkungkung dalam dan berorientasi kedalam saja (Inward looking). Era Keterbukaan dan kemajuan digital, menyediakan ruang yang sangat luas dan sangat lebar untuk membangun konektifitas dan sinergi. Pesantren Harus Go Global. Pesantren harus Menjadi Orkestrator  Jejaring  Pendidikan  Islam  Global  dan  Warga Nahdliyin harus menjadi leader nya. Sekarang saatnya Melompat dan Tidak boleh ketinggalan.
  16. Dengan Pendekatan dan Desain Pembelajaran yang saya sampaikan tadi, Kita berharap, “Pesantren mampu menjadi soko guru Peradaban Spiritual (Spiritual Civilization)”, dimana Ruh Spiritual sebagai pegangan fundamental dalam membangun peradaban dan “Spiritualitas sebagai Panglima Kehidupan”
  17. Oleh Karenanya, Dibutuhkan kerja bersama, kerja cerdas, kerja tuntas, kerja ikhlas, dalam membangun peta jalan (road map) untuk memperkuat positioning pesantren di tengah kompetisi global. Mari kita wujudkan “Undang Undang Pesantren yang sudah ada” kita dorong dan upayakan menjadi Undang Undang Payung/ Undang Undang Pokok (umbrella act) yang menjadi dasar dan kerangka hukum bagi Undang Undang lainnya di Republik Indonesia. Dengan demikian, Rekognisi, Afirmasi, Proteksi, dan Fasilitasi terhadap Pesantren tidak hanya sekedar formalitas belaka. Tetapi menjadi Mandatori bagi Penyelenggara Negara.
  18. Momentum Konsolidasi Nasional saat ini, harus bisa di manfaatkan sebagai momentum konsolidasi bagi Pesantren, sambil berbenah diri, melakukan Inovasi dan terus menjaga tradisi, Insyaallah Kedepan Pesantren dapat menjadi Lokomotif Perubahan Bukan Hanya Obyek dari Perubahan. “
  19. Terakhir, Mari kita glorifikasikan narasi dan aksi nyata bahwa “Menjaga Pesantren Sama Dengan Menjaga Indonesia” Dan Mendukung Pesantren Sama Dengan Mendukung Kemajuan Peradaban Dunia”.

Tulisan ini merupakan Pemikiran penulis sebagai Nara Sumber Simposium pada International Conference on the Transformation of Pesantren (ICTP) Juni 2025. Dimuat pada buku Transformasi Pesantren; dari Turats Hingga Artificial Intellegence, FPTP)

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *