Reformulasi Model Pembelajaran Berdiferensiasi di sekolah Umum berbasis Pesantren.

oleh Firdaus dan Moh. Jazuli *

Pendahuluan

Hakikat Pendidikan bertujuan membangun peradaban suatu bangsa melalui pembangunan manusia seutuhnya. Pendidikan merupakan hak setiap orang untuk meningkatkan harkat dan martabatnya dalam kehidupan sehari-hari. Senada dengan itu, Mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai amanah pendiri bangsa (founding fathers) melalui Konstitusi Negara, Undang-Undang Dasar 1945 diimplementasikan oleh Pemerintah melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun Nomor 20 Tahun 2003.

Dalam implementasinya, menemukan formula yang tepat mengenai model pembelajaran menjadi isu strategis pendidikan nasional.  Model pembelajaran merupakan langkah awal yang harus direncanakan dalam proses belajar mengajar secara keseluruhan. Terdapat banyak model pembelajaran yang ditemukan oleh para pakar dan bahkan telah ditetapkan ke dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, Pasal 14 sebanyak 11 macam yaitu : Small Group Discussion, Simulation, Case Study, Discovery Learning (DL), Self Directed Learning (SDL), Cooperative Learning (CL), Collaborative Learning (CbL), Contextual Instruction (CI), Project Based Learning (PjBL) dan Problem Based Learning and Inquiry (PBL/I). kemudian oleh Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022 tentang standar proses pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar dan Jenjang Pendidikan Menengah mengandung semangat model pembelajaran berdiferensiasi sebagaimana kesimpulan penelitian literatur dalam tinjauan pustaka penelitian ini. (Safinatun Najah, dkk, 2024).

Menurut Pakar Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990), mengetengahkan 5 (lima) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) Teori Belajar dan Pembelajaran (5) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran. (Nurlina, 2021).

Sedangkan berdiferensiasi dalam pembelajaran muncul pertama kali oleh Carol Ann Tomlinson & Moon. Pemikiran Tomlinson menjadi rujukan para penulis berikutnya yang membahas, menguji dan menerapkan teori pembelajaran ini di berbagai topik penelitian pembelajaran. Menurut Ayu Sri Wahyuni, meskipun teori ini bukanlah hal baru dalam  dunia pendidikan, namun  penelitian  tentang praktik  atau  penerapan  pembelajaran  berdiferensiasi di kelas  masih  sangat terbatas jumlahnya. Literature review yang sudah ada kebanyakan memaparkan tentang konsep, komponen, dan strategi dari pada praktik pembelajaran berdiferensiasi. Di Indonesia, Literature review yang mengkaji tentang pembelajaran berdiferensiasi juga masih sangat sedikit. (Ayu Sri Wahyuni, 2022).

Menurut Marlina, pembelajaran berdiferensiasi awalnya dikenalkan oleh (Carol Ann Tomlinson & Moon, 2014); (Carol Ann Tomlinson, 1999) yang menyatakan pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir, melayani, dan mengakui keberagaman Peserta Didik dalam belajar sesuai dengan kesiapan, minat, dan preferensi belajar Peserta Didik. (Marlina, 2020).

Pada dasarnya diferensiasi ini berpusat pada Peserta Didik, artinya pembelajaran dilakukan sesuai dengan cara dan strategi yang diminati oleh Peserta Didik dengan memberikan kesempatan kepadanya untuk eksplorasi secara mandiri dan pada posisi ini seorang guru menjadi fasilitator bagi Peserta Didiknya. Guru tidak hanya berfokus pada satu metode, namun guru memberikan kesempatan kepada para Peserta Didik agar mereka memilih metode yang diinginkannya sehingga hasil dari refleksi pembelajaran akan mampu tercapai walaupun dengan berbagai cara pembelajaran dari masing-masing Peserta Didik.

Salah satu saran yang ditawarkan oleh banyak praktisi pembelajaran berdiferensiasi adalah metode 3M. Saat guru mempersiapkan sebuah unit pembelajaran, secara eksplisit guru harus merinci dengan tepat apa yang diinginkan dari Peserta Didik MENGETAHUI, MEMAHAMI, dan MELAKUKAN (3M). Carol Ann Tomlinson, menyarankan bahwa guru menentukan sendiri hasil belajar yang mereka harapkan dari Peserta Didik dengan mengembangkan unit pembelajaran yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan Peserta Didik. Langkah pertama dalam merancang unit pembelajaran adalah komitmen membelajarkan Peserta Didik sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik Peserta Didik, mengingat hal ini berhubugan erat dengan komponen pembelajaran berdiferensiasi yang terdiri dari isi, Proses, Produk, Lingkungan belajar.

Pembelajaran Berdiderensiasi di SMA berbasis Pesantren

Pembelajaran berdiferensiasi memiliki peluang dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus prestasi siswa, namun di sisi lain pembelajaran ini memiliki tantangan dalam penerapannya. Untuk mengetahui seperti apa penerapan, peluang dan tantangannya, peneliti tertarik untuk meneliti satu unit pendidikan di tingkat kelas menengah atas, yakni SMA Islam Al Ghazali Gunung Sindur Bogor.

SMA Islam Al Ghozali merupakan salah satu lembaga pendidikan menengah atas swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al Ghozali. Sekolah ini berlokasi di Jalan Permata No. 19 RT 06/RW 05, Desa Curug, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Keberadaan SMA Islam Al Ghozali bertujuan untuk memberikan layanan pendidikan menengah yang memadukan ilmu pengetahuan umum dengan nilai-nilai keislaman.

Sebagai lembaga pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter dan pengembangan intelektual peserta didik, SMA Islam Al Ghozali berupaya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, religius, serta mendukung perkembangan akademik dan non-akademik siswa. Sekolah ini juga berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan masyarakat sekitar melalui penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas.

SMA Islam Al Ghozali telah memperoleh akreditasi yang baik dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) serta terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai.

Implementasi pembelajaran berdiferensiasi di sekolah ini melalui tiga tahapan utama; pertama, Asesmen Diagnostik: Pada awal tahun ajaran dan awal lingkup materi, guru melakukan asesmen kognitif (tes ringkas) dan non-kognitif (angket gaya belajar). Kedua, Perencanaan (Modul Ajar): Guru menyusun Modul Ajar yang memuat kegiatan berjenjang. Nilai Islami diintegrasikan dalam materi, misalnya mengaitkan fenomena alam (Sains) dengan ayat-ayat Kauniyah Al-Qur’an. Dan ketiga, Pelaksanaan Kelas: Guru membagi siswa ke dalam kelompok fleksibel berbasis kesiapan belajar. Siswa berkemampuan tinggi diberikan tantangan analisis mandiri, sementara siswa yang membutuhkan bimbingan didampingi intensif oleh guru.

Meski berjalan dengan baik, bukan berarti tiada tantangan. Beberapa hal yang dapat diidentifikasi dari hasil penelitian setidaknya para guru para guru mengidentifikasi tiga hambatan utama di lapangan; pertama, Manajemen Waktu: Guru membutuhkan waktu lebih lama untuk menyiapkan perangkat ajar, lembar kerja kelompok yang berbeda, dan instrumen penilaian yang bervariasi. Kedua, Kompetensi Asesmen: Sebagian guru masih kesulitan merancang asesmen non-kognitif yang valid dan menerjemahkan hasilnya menjadi strategi kelas yang konkret. Dan ketiga, Keterbatasan Fasilitas: Kurangnya perangkat proyektor multimedia di setiap ruang kelas membatasi ruang gerak guru untuk menyajikan diferensiasi konten berbasis audio-visual secara serentak. Meski terdapat tiga tantangan di atas, penerapan model pembelajaran berdiferensiasi ini menunjukkan tren positif.

Formula Baru: Model Diferensiasi Islami Terintegrasi (MDIT)

Melalui Penelitian ini ditemukan rumusan sebuah model modifikasi baru yang relevan dengan sekolah berbasis Islam. Formula ini mengintegrasikan diferensiasi sekuler barat (Tomlinson) dengan konsep Tarbiyah Ruhiyah (Pendidikan Spiritual) tokoh pendidikan Islam Imam Al-Ghazali.

Penerapan pembelajaran berdiferensiasi di SMA Islam Al Ghazali Gunungsindur membuktikan bahwa pemenuhan kebutuhan murid secara adil bukan berarti menyamaratakan perlakuan, melainkan memberikan apa yang mereka butuhkan. Hal ini sejalan dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara tentang menuntun kodrat anak, sekaligus merefleksikan nilai-nilai Islam bahwa manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling melengkapi.

Meskipun efektivitas terhadap prestasi belajar terbukti meningkat signifikan, kendala manajemen waktu guru menunjukkan perlunya optimalisasi Komunitas Praktisi antar guru di sekolah. Guru tidak harus bekerja sendiri, melainkan dapat saling berbagi modul ajar berdiferensiasi (Kolektif-Kolaboratif).

Lebih jauh, penemuan formula Model Diferensiasi Islami Terintegrasi” (MDIT) memberikan kontribusi teoritis baru. Selama ini, pembelajaran berdiferensiasi hanya fokus pada pencapaian akademik dan keterampilan umum. Melalui formula ini, SMA Islam Al Ghazali berhasil membuktikan bahwa diferensiasi dapat mempertebal karakter religius siswa, karena mereka distimulus untuk menggunakan kelebihan gaya belajarnya demi kebaikan dan nilai ibadah.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai penerapan pembelajaran berdiferensiasi di SMA Islam Al Ghazali Gunungsindur Bogor, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan murid, di mana guru memetakan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa. Proses ini dilaksanakan melalui tiga strategi utama, yaitu diferensiasi konten (materi yang diajarkan), diferensiasi proses (cara murid memahami materi), dan diferensiasi produk (hasil unjuk kerja murid).
  2. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi di di SMA Islam Al Ghazali Gunungsindur Bogor sudah berjalan dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islami dan adaptasi kurikulum nasional. Guru melakukan asesmen diagnostik di awal tahun atau awal bab untuk memetakan kemampuan siswa, kemudian merancang modul ajar yang memfasilitasi keragaman gaya belajar siswa di kelas.
  3. Faktor penghambat utama dalam proses penerapan ini meliputi keterbatasan waktu guru dalam menyusun perangkat ajar yang bervariasi, kurangnya pemahaman mendalam sebagian guru mengenai teknik asesmen non-kognitif, serta keterbatasan fasilitas pendukung di kelas untuk mendukung berbagai modalitas belajar siswa (seperti media berbasis teknologi atau audio-visual).Penerapan pembelajaran berdiferensiasi terbukti efektif dan berpengaruh positif terhadap prestasi belajar peserta didik. Hal ini terlihat dari peningkatan keterlibatan aktif siswa saat KBM, peningkatan hasil asesmen formatif, serta meningkatnya motivasi belajar karena siswa merasa dihargai sesuai dengan kapasitas dan gaya belajarnya masing-masing.
  4. Penelitian ini berhasil merumuskan sebuah formula model baru yang disebut “Model Diferensiasi Islami Terintegrasi” (MDIT) atau Formula Al-Ghazali. Model ini mengombinasikan pemetaan profil belajar modern dengan pendekatan emosional-spiritual (ruhaniah) khas pesantren, di mana diferensiasi produk akhir tidak hanya berbasis keterampilan umum, melainkan dikaitkan dengan unjuk kerja bernilai religius/akhlak (seperti pembuatan konten dakwah kreatif atau proyek sosial kemasyarakatan).
  • Firdaus dan Moh Jazuli adalah Dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *